Sabtu, 25 Januari 2014

Puisi dari Musikalisasi Dwitasari "TENTANG KITA"

Mungkin ini lebih bisa diartikan sebagai cerita isi hatinya :')
Begitu mendalam, dan sangat menyentuh hati. Siapkan tisyu untuk baca cerita yang satu ini yaa :')




LAGI, TENTANG KITA

Ini bukan yang pertama,
Duduk sendirian dan memperhatikan beberapa tulisan berlalu lalang. Setiap abjad yang terusun dalam kata terangkai menjadi kalimat. Dan entah mengapa sosokmu selalu berada disana. Berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan aku baca dan aku defenisikan lagi.

Ini bukan yang baru bagiku,
Duduk berjam jam tanpa merasakan hangatnya perhatianmu melalui pesan singkat. Kekosongan dan kehampaan sudah berganti ganti wajah sejak tadi. Namun aku tetap menunduk mencoba tak memedulikan keadaan. Karena jika aku terlalu terbawa emosi, aku bisa mati iseng sendiri. Tentu saja, kamu tak merasakan apa yang ku rasakan. Juga tak memiliki rindu yang tersimpan rapat rapat. Aku sengaja menyembunyikan perasaan itu. Agar kita tak lagi saling mengganggu. Bukankah dengan berjauhan seperti ini, semua terasa jadi lebih berarti. Seakan akan aku tak pernah peduli, seakan akan aku tak mau tahu, seakan akan aku tak miliki rasa perhatian. Bagiku, sudah cukup seperti ini. Cukup aku dan kamu, tanpa kita. Kali ini aku tak akan menjelaskan tetang kesepian. Atau bercerita tentang banyak hal yang mungkin saja sulit kau pahami. Karena aku sudah tahu, kamu sangat sulit diajak basa basi. Apalagi jika berbicara soal cinta mati. Aku yakin kamu akan menutup telinga dan membesarkan volume lagu lagu yang bernyanyi. Bahkan tanpa lirik yang tak bisa kau terjemahkan sendiri. Aku tidak akan tega membebanimu dengan cerita cerita epsel di eksel yang kau benci. Seperti dulu, saat aku bicara cinta. Kamu malah tertawa, seperti saat kita masih bersama. Aku berkata rindu, namun kau tulikan telinga. Hanya cerita sederhana yang mungkin tak ingin kau dengar sebagai pengantar tidurmu. Kamu tak suka jika aku ceritakan tentang airmata bukan? Bagaimana, kalau ku alihkan airmata menjadi senyum pura pura. Tentu saja, kau tak akan melihatnya. Sejauh yang ku tahu, kamu tidak peka. Dan mungkin saja, sifat burukmu masih sama. Walaupun kita sudah lama berpisah dan sudah lama tak saling bertatap mata. Entah mengapa akhir akhir ini sepi sekali. Aku seperti berbisik dan mendengar suaraku sendiri. Namun, aku masih saja heran. Dalam gelapnya malam ternyata ada banyak cerita yang sempat terlewatkan.

Ini tentang kita..
Ah, sekarang kamu pasti sedang membuang muka. Tak ingin membuka luka lama. Akupun juga begitu, tak ingin menyentuh bayang banyangmu yang semakin samar samar. Tak ingin mereka reka senyumu yang tidak lagi seindah dulu. Kalau boleh jujur, kata dulu begitu akrab di otak, pikiran dan telingaku. Seperti ada sesuatu yang terjadi, sangat dekat, sangat mendalam, sampai sampai tak mampu terhapus begitu saja oleh angkuhnya waktu dan jarak. Sudah kesekian kali aku diam diam menyebut namamu dalam sepi. Dan biarkan kenangan terbang menggelitik menggelitik  manja angin, tertiup jauh namun mungkin akan kembali. Wajah baruku bisa kau lihat sendiri. Terlihat lebih baik dan lebih hangat pada saat awal perpisahan kita. Bicara tentang perpisahan, benarkah kita telah berpisah? Benarkah kita sudah saling melupakan? Jika memang ada kata saling, tapi mengapa hatiku masih ingin terus mengikatmu? Dan mengapa hingga saat ini kamu tak benar benar menjauh. Kadang, jarak tak menjadi alasan untuk kita saling berbagi. Dalam sebuah ketidakjelasan, aku dan kamu masih saja menjalani… menjalani sesuatu yang tak tahu harus disebut apa. Tapi katamu, masih ada rasa nyaman ketika kita kembali berdekatan. Terlalu tololkah jika aku sebut belahan jiwa?. Keterikatan aku dan kamu tak ada dalam status. Tapi jiwa kita, nafas kita, kerinduan kita, memiliki denyut dan detak yang sama. Tidak usah di bawa serius, hanya beberapa rangkaian paragraf bodoh untuk menemani rasa sepi yang sudah lama sekali datang menghantui. Sulit untuk di pungkiri, sejak kamu tak lagi di sini. Sejak aku dan kamu memilih jalan sendiri sendiri, aku malah sering main dengan sepi…


-@dwitasaridwita-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar