Begitu mendalam, dan sangat menyentuh hati. Siapkan tisyu untuk baca cerita yang satu ini yaa :')
LAGI, TENTANG KITA
Ini bukan yang pertama,
Duduk sendirian dan memperhatikan beberapa tulisan berlalu lalang. Setiap
abjad yang terusun dalam kata terangkai menjadi kalimat. Dan entah mengapa
sosokmu selalu berada disana. Berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan aku
baca dan aku defenisikan lagi.
Ini bukan yang baru bagiku,
Duduk berjam jam tanpa merasakan hangatnya perhatianmu melalui pesan
singkat. Kekosongan dan kehampaan sudah berganti ganti wajah sejak tadi. Namun
aku tetap menunduk mencoba tak memedulikan keadaan. Karena jika aku terlalu
terbawa emosi, aku bisa mati iseng sendiri. Tentu saja, kamu tak merasakan apa
yang ku rasakan. Juga tak memiliki rindu yang tersimpan rapat rapat. Aku
sengaja menyembunyikan perasaan itu. Agar kita tak lagi saling mengganggu. Bukankah
dengan berjauhan seperti ini, semua terasa jadi lebih berarti. Seakan akan aku
tak pernah peduli, seakan akan aku tak mau tahu, seakan akan aku tak miliki
rasa perhatian. Bagiku, sudah cukup seperti ini. Cukup aku dan kamu, tanpa kita.
Kali ini aku tak akan menjelaskan tetang kesepian. Atau bercerita tentang
banyak hal yang mungkin saja sulit kau pahami. Karena aku sudah tahu, kamu
sangat sulit diajak basa basi. Apalagi jika berbicara soal cinta mati. Aku
yakin kamu akan menutup telinga dan membesarkan volume lagu lagu yang bernyanyi.
Bahkan tanpa lirik yang tak bisa kau terjemahkan sendiri. Aku tidak akan tega
membebanimu dengan cerita cerita epsel di eksel yang kau benci. Seperti dulu,
saat aku bicara cinta. Kamu malah tertawa, seperti saat kita masih bersama. Aku
berkata rindu, namun kau tulikan telinga. Hanya cerita sederhana yang mungkin
tak ingin kau dengar sebagai pengantar tidurmu. Kamu tak suka jika aku
ceritakan tentang airmata bukan? Bagaimana, kalau ku alihkan airmata menjadi
senyum pura pura. Tentu saja, kau tak akan melihatnya. Sejauh yang ku tahu,
kamu tidak peka. Dan mungkin saja, sifat burukmu masih sama. Walaupun kita
sudah lama berpisah dan sudah lama tak saling bertatap mata. Entah mengapa
akhir akhir ini sepi sekali. Aku seperti berbisik dan mendengar suaraku
sendiri. Namun, aku masih saja heran. Dalam gelapnya malam ternyata ada banyak
cerita yang sempat terlewatkan.
Ini tentang kita..
Ah, sekarang kamu pasti sedang membuang muka. Tak ingin membuka luka
lama. Akupun juga begitu, tak ingin menyentuh bayang banyangmu yang semakin samar
samar. Tak ingin mereka reka senyumu yang tidak lagi seindah dulu. Kalau boleh
jujur, kata dulu begitu akrab di otak, pikiran dan telingaku. Seperti ada
sesuatu yang terjadi, sangat dekat, sangat mendalam, sampai sampai tak mampu
terhapus begitu saja oleh angkuhnya waktu dan jarak. Sudah kesekian kali aku
diam diam menyebut namamu dalam sepi. Dan biarkan kenangan terbang menggelitik
menggelitik manja angin, tertiup jauh
namun mungkin akan kembali. Wajah baruku bisa kau lihat sendiri. Terlihat lebih
baik dan lebih hangat pada saat awal perpisahan kita. Bicara tentang
perpisahan, benarkah kita telah berpisah? Benarkah kita sudah saling melupakan?
Jika memang ada kata saling, tapi mengapa hatiku masih ingin terus mengikatmu?
Dan mengapa hingga saat ini kamu tak benar benar menjauh. Kadang, jarak tak
menjadi alasan untuk kita saling berbagi. Dalam sebuah ketidakjelasan, aku dan
kamu masih saja menjalani… menjalani sesuatu yang tak tahu harus disebut apa.
Tapi katamu, masih ada rasa nyaman ketika kita kembali berdekatan. Terlalu
tololkah jika aku sebut belahan jiwa?. Keterikatan aku dan kamu tak ada dalam
status. Tapi jiwa kita, nafas kita, kerinduan kita, memiliki denyut dan detak
yang sama. Tidak usah di bawa serius, hanya beberapa rangkaian paragraf bodoh
untuk menemani rasa sepi yang sudah lama sekali datang menghantui. Sulit untuk
di pungkiri, sejak kamu tak lagi di sini. Sejak aku dan kamu memilih jalan
sendiri sendiri, aku malah sering main dengan sepi…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar